Mamose, Saat Ikatan Leluhur Kembali Diperteguh di Lempo Gandeng

MAMUJU TENGAH — Tepat pukul 14.00 Wita, saya tiba di Rumah Adat Lempo Gandeng, Tangkou Budong-Budong, Kabupaten Mamuju Tengah. Bersama saya, hadir pula Dinda Wentri, seorang kader HMI Mamuju Tengah yang sejak awal mengaku ingin menyaksikan secara langsung prosesi adat Mamose, tradisi warisan leluhur Tangkou Budong-Budong yang selama ini hanya ia dengar dari cerita masyarakat.

Saat kami memasuki kawasan rumah adat, suasana mulai dipenuhi masyarakat. Tokoh adat, tetua kampung, hingga warga dari telah berkumpul, menunggu dimulainya prosesi sakral yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Tangkou.

Hadir dalam prosesi tersebut keturunan Pue Ballung Budong-Budong, Dr. Bd. Hj. Nilmawiah, S.S.T., M.M.Kes., Tobara Tua, tokoh masyarakat sekaligus pemerhati budaya Yusran, serta Kepala Desa Tabolang Rusdin Sakaria. Kehadiran mereka menjadi penegas bahwa Mamose bukan sekadar seremoni adat, melainkan ruang tempat sejarah, identitas, dan nilai-nilai leluhur kembali dipertemukan.

Bagi Nilmawiah, prosesi itu memiliki makna yang sangat personal. Ia mengaku bukan hanya menjadi saksi perjalanan adat, tetapi juga bagian dari sejarah yang pernah menjalaninya.

"Saya ini sesungguhnya bagian dari pelaku sejarah. Sekitar tahun 1980-an saya dilantik sebagai Puena To Budong-Budong," tuturnya.
Menurutnya, Mamose merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari ritual Magora yang telah dilaksanakan sehari sebelumnya di Sungai Budong-Budong. Magora menjadi penanda kepada masyarakat bahwa prosesi adat berikutnya akan segera dilaksanakan.

Ia menjelaskan, Mamose identik dengan Pemanna, yang kerap dikenal sebagai ritual tebas tubuh. Namun, maknanya jauh melampaui simbol tersebut. Ritual ini menjadi bentuk pengukuhan ikatan dan perjanjian adat antara perangkat adat dengan Pue Ballung, pemimpin tertinggi dalam struktur adat masyarakat Tangkou.

Nilmawiah mengisahkan bahwa seluruh rangkaian Magora merupakan amanah Tobara kepada perangkat adat, yakni Puntai, Pundolu, Pohombi, dan Sanro Ada'.

Prosesi diawali dengan Magane, yakni permohonan izin kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Setelah mantra-mantra adat dibacakan oleh Puntai, rombongan menyusuri aliran Sungai Budong-Budong menggunakan perahu. Sepanjang perjalanan, bunyi Tantuang yang berpadu dengan teriakan khas menjadi penanda bahwa rombongan adat sedang melintas.

Suara itu menjadi panggilan bagi masyarakat. Mereka berbondong-bondong mendekati perahu untuk mengikuti ritual keselamatan, pengobatan tradisional, hingga memohon keberkahan.

"Awalnya ini merupakan agenda internal masyarakat adat Tangkou Budong-Budong. Baru sekitar tahun 1980-an mulai dikenal masyarakat luas setelah ditampilkan dalam Pekan Budaya di Benteng Rotterdam, Makassar," katanya.

Ia juga mengungkapkan, pada masa lalu Magora dan Mamose dilaksanakan tiga kali dalam setahun mengikuti siklus kehidupan masyarakat, yakni saat membuka lahan, membersihkan kebun, dan menjelang panen. Kini, pelaksanaannya umumnya hanya dua kali dalam setahun karena menyesuaikan kemampuan masyarakat dan para pemangku adat.

Meski mengalami penyesuaian, fungsi Mamose juga berkembang. Selain berkaitan dengan aktivitas pertanian, ritual ini kini kerap digelar sebagai prosesi penyambutan tamu kehormatan atau dalam kegiatan budaya tertentu.

"Budaya tidak pernah berhenti. Ia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai yang diwariskan leluhur," ujarnya.

Namun, ia menyayangkan satu tradisi lain, yakni Morego, kini nyaris tak lagi dilaksanakan. Padahal, Morego dahulu menjadi penutup seluruh rangkaian adat melalui tarian dan perjamuan sebagai ungkapan syukur masyarakat.

Tokoh masyarakat dan pemerhati budaya, Yusran, menilai Magora dan Mamose bukan sekadar ritual tahunan, tetapi merupakan identitas budaya masyarakat Tangkou yang harus terus dirawat. Menurutnya, tradisi ini menyimpan nilai sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan yang penting dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

Sementara itu, Kepala Desa Tabolang, Rusdin Sakaria, mengatakan pemerintah desa terus berupaya menjaga keberlangsungan adat dengan memberikan dukungan kepada para pemangku adat, termasuk melalui pemberian insentif dan bantuan pada setiap pelaksanaan kegiatan budaya.

Ia menyebut pembangunan Rumah Adat Lempo Gandeng merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah yang masih membutuhkan penyempurnaan, seperti pembangunan pagar dan sarana pendukung pelaksanaan Mamose.

"Kami berharap pemerintah kabupaten maupun provinsi dapat terus memberikan perhatian agar budaya Tangkou Budong-Budong tetap lestari dan berkembang sebagai warisan budaya yang membanggakan," katanya.
Sore itu, di bawah tiang-tiang kayu Lempo Gandeng yang kokoh, saya melihat bukan hanya sebuah prosesi adat sedang berlangsung. Saya menyaksikan bagaimana sebuah masyarakat menjaga ingatan kolektifnya. Di sisi saya, Dinda Wentri pun larut mengamati setiap tahapan ritual dengan penuh rasa ingin tahu. Bagi kami, Mamose bukan sekadar tontonan budaya, melainkan pelajaran tentang bagaimana sebuah komunitas tetap teguh memelihara akar sejarahnya di tengah arus perubahan zaman.

 *Adhi Riadi*

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama