LK III BADKO HMI Sulbar: Meneguhkan Jalan Perjuangan dan Kepemimpinan Muda

Rahmat Hidayat Ketua Panitia LKIII Badko HMI Sulbar

Mamuju - Sulawesi Barat - Latihan Kader III (Advance Training) Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sulawesi Barat bukan sekadar agenda formal organisasi, melainkan ruang penempaan kesadaran ideologis kader dalam membaca realitas keumatan dan kebangsaan. LK III adalah kawah candradimuka yang menguji sejauh mana kader mampu memadukan idealisme keislaman dengan tanggung jawab keindonesiaan.

Kesuksesan pelaksanaan LK III BADKO HMI Sulbar yg diselenggarakan mulai tgl 7 - 14 Desember 2025 di menunjukkan bahwa tradisi kaderisasi masih terjaga sebagai nadi perjuangan HMI. Dinamika forum, kedalaman diskursus, serta disiplin kolektif yang terbangun menjadi indikator bahwa proses ini tidak berjalan secara seremonial, tetapi benar-benar diarahkan untuk melahirkan kader yang matang secara intelektual, ideologis, dan praksis.
Sebagai jenjang kaderisasi tertinggi, LK III memikul beban sejarah yang besar. Dari ruang inilah diharapkan lahir kader yang mampu menjadi lokomotif perubahan, bukan sekadar penonton atas ketimpangan sosial yang terus terjadi di Sulawesi Barat. Kader LK III dituntut untuk tidak hanya fasih berbicara gagasan, tetapi juga berani mengambil posisi dalam setiap persoalan umat dan rakyat.

Ketua Bidang Pembinaan Anggota (PA) Badko HMI Sulawesi Barat (Rahmat Hidayat) menegaskan bahwa kader LK III harus memahami dirinya sebagai insan pengabdi, bukan elit organisasi. Menurutnya, kelulusan LK III bukanlah akhir dari proses, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. “Kader HMI harus hadir sebagai solusi atas problem umat dan bangsa, bukan menambah daftar masalah,” menjadi refleksi penting yang disampaikan dalam proses kaderisasi.

Pandangan tersebut sejalan dengan realitas Sulawesi Barat yang masih dihadapkan pada berbagai persoalan struktural, mulai dari ketimpangan pembangunan, minimnya partisipasi publik. Dalam konteks ini, kader HMI dituntut menjadi insan cita yang mampu menggerakkan perubahan sosial dengan berlandaskan nilai keislaman dan semangat keindonesiaan.

LK III BADKO HMI Sulbar harus dibaca sebagai ikhtiar kolektif untuk menyiapkan kepemimpinan muda yang berkarakter, berintegritas, dan berkeadaban. Kepemimpinan yang tidak lahir dari ambisi kekuasaan, tetapi dari kesadaran pengabdian. Kepemimpinan yang berpihak pada nilai, bukan sekadar kepentingan sesaat.

Akhirnya, keberhasilan LK III ini harus dijawab dengan konsistensi gerakan kader. Nilai-nilai yang ditanamkan dalam proses latihan harus hidup dalam praksis keseharian kader, baik di ruang akademik, sosial, maupun politik. Sebab, sejatinya kader HMI adalah mereka yang senantiasa menjadikan Islam sebagai nilai perjuangan dan Indonesia sebagai medan pengabdian.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama