Sabtu, 16 Mei 2026 — Angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Sulawesi Barat ternyata lebih mengkhawatirkan dari yang banyak orang kira.
Data terbaru tahun 2025 menunjukkan, anak yang mengenyam pendidikan hingga bangku SMA di provinsi ini hanya berkisar 60,89% dan sampai April 2026 terdata masih ada sekitar 1700 ATS yang tersebar di seluruh kabupaten di Sulawesi Barat.
Fakta pahit ini diungkap langsung oleh Muhammad Nehru Sagena, S.IP., M.Si, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Barat, dalam Webinar Pendidikan yang digelar secara daring oleh organisasi Mata Garuda Sulbar, Sabtu pagi.
“Pada 02 Mei 2026 lalu, tepat di Hari Pendidikan Nasional, pemerintah meluncurkan Gerakan Kembali Bersekolah.
Dan hasilnya nyata, 550 dari 1700 anak Sulbar yang sempat putus sekolah kini kembali duduk di bangku kelas. Ini baru langkah awal. Masih banyak pintu yang harus kita ketuk, masih banyak tangan yang harus kita rangkul”, tegasnya.
Menurutnya, persoalan ATS ini bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi menyentuh banyak sisi kehidupan mulai dari sosial, ekonomi, budaya, hingga masa depan generasi muda Sulbar secara keseluruhan.
Komunitas Ikut Turun Tangan ! Keprihatinan serupa datang dari Muhammad Yusril Anam, Founder Komunitas Sipamandar yang juga menjadi Narasumber dalam webinar ini menegaskan bahwa sudah saatnya semua pihak tidak tinggal diam. "Sulbar adalah rumah kita. Dan tidak ada ceritanya kita membiarkan anak-anak di rumah sendiri tumbuh tanpa pendidikan.
Komunitas Sipamandar hadir bukan karena kami punya segalanya, tapi karena kami tidak sanggup diam melihat adik-adik kami tertinggal," ujarnya. Komunitas Sipamandar sendiri hadir sebagai wadah bagi para pemuda yang ingin terlibat langsung dalam upaya menangani persoalan ATS di Sulawesi Barat.
Dari sisi penyelenggara, Hasbi selaku Ketua Mata Garuda Sulbar menekankan bahwa webinar ini bukan sekadar acara seremonial. Ia menyebutnya sebagai bentuk aksi nyata kepedulian terhadap isu ATS. "Kami menggelar webinar ini bukan untuk mengejar prestasi organisasi.
Kami menggelarnya karena kami tidak sanggup tidur nyenyak sementara di luar sana masih ada anak-anak Sulbar yang bangun pagi tanpa tahu kapan mereka bisa kembali ke sekolah. Kolaborasi bukan lagi pilihan, ini kewajiban kita bersama." Tegasnya.
Di penghujung diskusi, satu pesan bergema dari seluruh narasumber: “Selama masih ada satu anak Sulbar yang belum mengenyam pendidikan, kita semua baik pemerintah, komunitas, dan Masyarakat belum boleh berhenti. Karena mereka bukan angka dalam laporan. Mereka adalah Sulawesi Barat yang sedang kita bangun.”