MAMUJU — Desa Kalepu, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menggelar perhelatan budaya yang sarat makna. Pada Minggu, 1 November 2026, warga desa tampak antusias merayakan tradisi Mappadendang, sebuah pesta panen raya dan upacara adat syukur turun-temurun dari masyarakat Suku Bugis.
Kata mappadendang sendiri berasal dari kata "dendang" dalam bahasa Bugis, yang berarti lantunan, bunyi, atau irama. Acara tahunan ini menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk merefleksikan kembali hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Ketua Adat Desa Kalepu, Tajuddin M, menegaskan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk komitmen warga dalam menjaga warisan budaya leluhur di tengah arus modernisasi.
"Menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan, melainkan meniti jalan ke depan tanpa mencabut akarnya. Merawat ritual, menghidupkan kembali malam cerita rakyat, dan menjaga kelestarian alam lewat kearifan lokal adalah hal yang utama," ujar Tajuddin M.
Meriahnya Tabuhan Alu dan Perubahan Nuansa Busana
Berbeda dari perayaan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya diwarnai dengan penggunaan Baju Bodo, pada perayaan Mappadendang kali ini para peserta dan penari hadir tanpa mengenakan pakaian adat Baju Bodo tersebut. Meski demikian, suasana di setiap sudut desa tetap berlangsung khidmat dan meriah.
Prosesi inti Mappadendang tetap berjalan sesuai pakem tradisional dengan melibatkan formasi penabuh dan penari yang terdiri dari enam orang perempuan sebagai pelantun dendang, serta tiga orang laki-laki sebagai penumbuk alu. Paduan ritme suara lesung dan alu yang berirama dinamis menciptakan harmoni musikal khas pedesaan yang memukau warga dan tamu undangan yang hadir.
Tiga Pilar Utama Tujuan Mappadendang
Lebih dari sekadar hiburan rakyat, upacara adat ini memuat nilai-nilai luhur yang mendalam. Tajuddin M memaparkan tiga tujuan utama penyelenggaraan tradisi Mappadendang di Desa Kalepu:
Pelestarian Budaya: Menjaga agar adat istiadat, bahasa ibu, dan seni tradisi Suku Bugis tidak lekang oleh zaman.
Ungkapan Syukur: Menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas keberhasilan dan kelimpahan hasil panen yang diperoleh para petani.
Mempererat Silaturahmi: Menjaga dan menjalin kerukunan, memperkuat semangat gotong royong, serta menghadirkan hiburan bersama bagi seluruh warga desa.
Desa Sebagai Rumah Budaya
Panitia penyelenggara juga menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi keberadaan desa. Di setiap sudut Desa Kalepu, tersimpan jejak langkah para leluhur yang menjadi kompas dalam menjalani hidup berdampingan dengan alam.
Bagi warga Kalepu, desa bukan sekadar tempat tinggal atau kumpulan bangunan fisik semata. Desa adalah "rumah budaya", tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan penghormatan kepada semesta terus dijaga—hari ini, dan untuk diwariskan kepada anak cucu kelak.
Melalui perhelatan Mappadendang 2026 ini, Desa Kalepu kembali membuktikan bahwa tradisi lokal yang kuat adalah tiang penyangga yang membuat identitas masyarakat tetap kokoh berdiri di tanah Mamuju.
editor: Wentri