Nama : Sitti Nurmayanti
Ttl : Mamuju, 11 seperempat 2004
Banyak perempuan menjalani hidup dengan satu kebiasaan yang diwariskan secara diam-diam: menahan. Menahan lelah, menahan sedih, menahan marah, dan menahan tangis. Bukan karena tidak ingin berbagi, tetapi karena sejak lama perempuan diajarkan bahwa menjadi kuat berarti tidak banyak mengeluh.
Di rumah, perempuan sering menjadi penyangga emosi keluarga. Mereka diharapkan mampu memahami perasaan semua orang, menjaga suasana tetap hangat, dan meredam konflik. Di luar rumah, perempuan dituntut produktif, mandiri, dan tangguh menghadapi tekanan. Ketika semua peran ini bertabrakan, kesehatan mental perempuan sering kali menjadi korban pertama.
Ironisnya, kelelahan psikologis perempuan jarang dianggap serius. Ketika perempuan mengaku cemas, stres, atau tertekan, respons yang muncul sering bersifat meremehkan: dianggap kurang bersyukur, terlalu sensitif, atau sekadar fase emosional. Padahal, perasaan tersebut adalah sinyal tubuh dan jiwa yang sedang tidak baik-baik saja.
Media sosial turut memperumit situasi. Standar kebahagiaan dan kesuksesan perempuan dipertontonkan setiap hari, menciptakan tekanan untuk selalu terlihat kuat dan bahagia. Di balik layar, banyak perempuan merasa gagal hanya karena tidak mampu memenuhi gambaran ideal yang sebenarnya tidak realistis.
Membicarakan kesehatan mental perempuan bukan soal mencari simpati, tetapi soal keadilan emosional. Perempuan berhak lelah tanpa harus merasa bersalah. Perempuan berhak didengar tanpa dihakimi. Sudah saatnya masyarakat berhenti menormalisasi penderitaan perempuan sebagai “kodrat” dan mulai melihatnya sebagai persoalan bersama yang membutuhkan empati dan solusi nyata.